Buku keenam dari seri kajian Sirah Nabawiyah ini mengangkat babak yang paling menentukan dalam perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ: masa peralihan dari dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi menuju dakwah yang disampaikan secara terang-terangan di hadapan seluruh penduduk Makkah.
Di bagian awal, pembaca diajak menelusuri sisi lain kejahiliyahan Makkah — bahwa di tengah masyarakat penyembah berhala, ternyata masih ada jiwa-jiwa yang bertahan di atas kemurnian tauhid, mewarisi ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kisah empat tokoh yang dijamin husnul khatimah sebelum masa kenabian — Utsman bin Thalhah, Waraqah bin Naufal, Zaid bin Amr bin Nufail, dan Qiss bin Sa’idah — menjadi pengingat bahwa hidayah adalah anugerah yang dapat hadir kapan saja bagi hati yang mau mencari kebenaran.
Selanjutnya, buku ini menguraikan secara runtut bagaimana dakwah sembunyi-sembunyi dimulai dari lingkaran terdekat Rasulullah ﷺ — Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dengan kejeliannya berhasil mengislamkan lima sahabat mulia dalam waktu singkat. Kemudian babak dakwah terang-terangan dibuka dengan seruan lantang di Bukit Abu Qubais, penolakan keras Abu Lahab, perlindungan gigih Abu Thalib, hingga perdebatan sengit dengan Al-Walid bin Al-Mughirah yang berujung pada kekaguman tersembunyi terhadap keindahan Al-Qur’an.
Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai kutipan ayat serta hadits shahih, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat perjuangan awal Islam — sebuah kisah yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan tauhid, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kesabaran menghadapi ujian dakwah.














