Setelah menuntaskan pembahasan tentang keajaiban sedekah, buku ini membawa pembaca masuk ke separuh perjalanan berikutnya: keajaiban istighfar. Bertumpu pada sebuah kajian rutin, penyusun merangkai penjelasan tentang makna istighfar dan taubat, syarat diterimanya taubat menurut Imam Nawawi rahimahullah, dua faedah besar istighfar (pembebasan dari hukuman dan kesempatan untuk kembali bersaing meraih derajat tinggi), hingga kedudukan istighfar sebagai zikir harian seorang mukmin.
Pembaca akan diajak menelusuri kisah-kisah otentik dari Al-Qur’an dan hadis sahih — godaan nafsu pada peristiwa Nabi Yusuf dan Zulaikha, istighfar Nabi Ibrahim untuk ayahnya Azar, batas syariat dalam memohonkan ampun bagi yang wafat dalam kekafiran atau kemunafikan (Abu Thalib dan Abdullah bin Ubay), keislaman Amru bin Ash yang menghapus dosa masa lalu, sampai anjuran mendoakan ampunan bagi sesama mukmin.
Ditulis dengan bahasa yang hangat dan mengalir layaknya duduk di majelis ilmu, buku ini cocok dibaca oleh siapapun — pemula maupun yang sudah lama belajar agama — sebagai pengingat bahwa pintu ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terbuka selama hamba mau kembali kepada-Nya.














