Buku “Menjalani Hidup di Atas Tauhid dan Sunnah” mengangkat satu pertanyaan mendasar yang
jarang benar-benar direnungkan oleh kebanyakan manusia: di atas pijakan apa sebenarnya kita
menjalani hidup ini? Berangkat dari tafsir surah Al-Baqarah ayat 214—“Apakah kalian mengira akan
masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana yang datang kepada
orang-orang terdahulu?”—buku ini mengajak pembaca untuk jujur menakar kualitas keimanan diri,
bukan sekadar merasa sudah menjadi orang baik atau calon penghuni surga.
Inti pembahasan berputar pada dua kalimat syahadat sebagai thariqus salamah, jalan keselamatan,
bukan semata simbol identitas keagamaan. Pembaca diajak menyelami bagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menghabiskan tiga belas tahun dakwahnya di Makkah untuk
menanamkan satu kalimat—laa ilaaha illallah—sebelum masuk kepada syariat-syariat yang lain. Dari sinilah buku ini menegaskan bahwa tauhid bukan pelajaran tambahan dalam Islam, melainkan
fondasi yang menentukan diterima atau tidaknya seluruh amal.
Bagian tengah buku mengupas tujuh syarat kalimat laa ilaaha illallah—ilmu, yakin, menerima, tunduk, jujur, ikhlas, dan mencintai—yang masing-masing disertai kisah nyata dari generasi terdahulu, mulai dari keteguhan Bilal bin Rabah, nasihat Hasan Al-Bashri kepada seorang penyair, hingga perumpamaan “kunci surga yang bergigi” dari Wahb bin Munabbih. Kisah-kisah ini bukan sekadar pemanis, melainkan cermin untuk menguji sejauh mana syahadat yang diucapkan lisan telah meresap ke dalam hati dan perbuatan.
Buku ini juga menegaskan bahaya syirik sebagai kezaliman terbesar, sikap yang proporsional dalam
menyikapi perbedaan agama di tengah masyarakat majemuk, serta buah manis yang dipetik dari
tauhid yang bersih dari noda kesyirikan, yaitu rasa aman dan hidayah yang sempurna. Pada bagian
akhir, disertakan sesi tanya jawab yang membumikan tema besar tauhid ke dalam persoalan
keseharian: keutamaan bulan-bulan haram, urgensi belajar bahasa Arab bagi seorang muslim,
hingga kegelisahan orang tua dalam mendidik anak agar mau menegakkan shalat.
Ditulis dengan bahasa yang mengalir dan runtut, buku saku ini cocok dibaca oleh siapa saja: mereka
yang baru mengenal Islam, para orang tua yang ingin menanamkan aqidah kepada anak-anaknya, aktivis dakwah, maupun kaum muslimin yang ingin meninjau ulang fondasi keimanan yang selama ini mereka pijak. Semoga menjadi bekal untuk mengukuhkan pijakan hidup di atas tauhid dan sunnah, dunia hingga akhirat.
E-Book Menjalani Hidup Di Atas Tauhid Dan Sunnah
Original price was: Rp25.000.Rp20.000Current price is: Rp20.000.
Buku “Menjalani Hidup di Atas Tauhid dan Sunnah” mengangkat satu pertanyaan mendasar yang
jarang benar-benar direnungkan oleh kebanyakan manusia: di atas pijakan apa sebenarnya kita
menjalani hidup ini? Berangkat dari tafsir surah Al-Baqarah ayat 214—“Apakah kalian mengira akan
masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana yang datang kepada
orang-orang terdahulu?”—buku ini mengajak pembaca untuk jujur menakar kualitas keimanan diri,
bukan sekadar merasa sudah menjadi orang baik atau calon penghuni surga.
Inti pembahasan berputar pada dua kalimat syahadat sebagai thariqus salamah, jalan keselamatan,
bukan semata simbol identitas keagamaan. Pembaca diajak menyelami bagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menghabiskan tiga belas tahun dakwahnya di Makkah untuk
menanamkan satu kalimat—laa ilaaha illallah—sebelum masuk kepada syariat-syariat yang lain. Dari sinilah buku ini menegaskan bahwa tauhid bukan pelajaran tambahan dalam Islam, melainkan
fondasi yang menentukan diterima atau tidaknya seluruh amal.













